Menjadi Entrepreneur dan Pebisnis Muda Sukses

Kemarin teman saya melamar perkerjaan ke beberapa perusahaan. Teman saya ini ketika kuliah dulu cukup cemerlang dan memiliki prestasi yang lumayan. Akan tetapi gara-gara ketatnya persaingan, dia belum dapat perkerjaan juga, padahal sudah 6 bulan dia mengganggur. Bandingkan dengan teman saya yang satu lagi, ketika masa kuliah dulu prestasinya biasa-biasa saja, akan tetapi ketika dia keluar dari kampus, dia sudah punya penghasilan dari bisnis kecil-kecilan yang ditekuninya sejak masih bangku kuliah. Memang tidak terlalu besar, hanya bergerak di bisnis pulsa, tapi mendingan ‘ada’ daripada ‘tidak sama sekali’ bukan? Atau, lebih baik mempunyai penghasilan dari 2 sumber daripada 1 sumber bukan? :D

Akhir-akhir ini, banyak sekali pelatihan / training dalam bentuk seminar atau expo yang bertemakan entrepreneur atau pebisnis muda. Mungkin ada yang berpendapat, “Hmmm apa pentingnya sih menjadi entrepreneur? Jadi pebisnis itu kan susah, membutuhkan modal besar, apalagi kalau usaha kita nanti bangkrut, rugi banget. Mendingan jadi pegawai, setiap bulan pasti dapat duit, yang pasti-pasti saja lah.”

Memang tidak ada salahnya menjadi pegawai, tapi pertanyaanya sekarang adalah, “Kalau bisa menjadi ‘tangan di atas’, kenapa harus menjadi si ‘tangan di bawah’?Kalau bisa jadi ‘Bos’ atas bisnis kita, kenapa harus jadi pegawai yang disuruh-suruh? Kalau bisa sekarang mempunyai penghasilan tanpa menunggu gelar/titel, kenapa harus nanti ketika lulus baru cari penghasilan?

Mungkin juga teman2 juga sering melihat ada teman di kampus atau di kantor yang menawarkan bisnis kepada kamu yang bersifat MLM atau Member Get Member. Kebanyakan dari kita pasti kurang tertarik dengan bisnis seperti ini, tapi tahukah Anda, saya pernah bertanya ke beberapa teman saya yang pernah menawarkan bisnis sejenis kepada saya, dan mereka semua bilang kalau mereka melakukan bisnis begitu bukan karena mereka suka atau seneng berbisnis MLM, tapi mereka sedang mengejar IMPIAN untuk MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK. Wow! That’s great! Mereka berkerja bukan untuk masa sekarang, tapi untuk masa depan. Pola pikir ini lah yang sangat jarang ditemui.

Pada zaman teknologi ini, memang tidak bisa dipungkiri, anak-anak muda haruslah kreatif dan mandiri. Tidak perlu meminta-minta uang lagi kepada ortu, tapi haruslah sigap dan bertindak cerdas untuk masa depannnya. Tidak harus bisnis yang saya kasih contoh di atas, masih banyak lagi seperti bisnis clothingonline, kue, musik, otomotif, dan masih banyak lagi.

Intinya cuma satu, lakukan bisnis sesuai dengan HOBIkamu. Kalau kamu udah melakukan sesuai hobi, kamu akan selaluenjoy walaupun bisnis kamu naik turun penghasilannya. Kalo kamu seneng masak, ya kamu bisa titipkan makan atau kue yang sering kamu buat ke kantin kampus atau sekolah. Nah, nanti kamu dapat komisi apabila makanan itu laku. Misalnya kamu senang otomotif, kamu bisa memanfaatkan ilmu kamu tentang otomotif dengan membuka klinik otomotif di internet, tapi tentunya teknis nya tidak bisa saya jelaskan semua di sini. Atau kalau kamu ingin bisnis yang modalnya tidak terlalu besar, dan barangnya banyak dibutuhkan (kebutuhan primer bisa dibilang pada zaman sekarang), yaitu bisnis pulsa, kamu bisa menjadi ‘counter pulsa dadakan’ teman-teman kamu di mana pun kamu berada.

Intinya adalah asal ada kemauan, pasti ada jalana (if there is a will, there is a way). Ingat, KONDISI kamu hari ini tidak menjamin masa depan kamu, tapi POLA PIKIR kamu hari ini, itu yang menjamin masa depan kamu!!SEMANGAT!!

 

Penulis : Erifson Jenando
AndrieWongso.com

Memberi Lebih Dulu – Ayam Gratis

Ada seorang pria paruh baya mempunyai sebuah toko makanan ternak yang tidak begitu laku. Makin hari, makin sedikit saja orang yang membeli pakan ternaknya.
Suatu hari, pria itu mendapat ide dan membuat keputusan besar. Ia menginvestasikan uang yang cukup banyak untuk membeli 1000 ekor anak ayam. Wah, begitu para tetangganya tahu, mereka langsung mengejek dan menganggap pria ini tidak waras. Jual makanan ayam saja tidak laku, bagaimana mungkin bisa menjual anak ayam!
Mereka lebih heran lagi ketika tahu bahwa pria ini tidak menjual anak ayam tersebut. Sebaliknya, ia malah membagikan anak-anak ayam tersebut secara GRATIS kepada para pembeli pakan ternaknya.

“Benar-benar gila!” seru para tetangga. “Tokonya mau bangkrut, dia malah beli banyak anak ayam dan membagikannya secara cuma-cuma. Mana ada pengusaha waras yang melakukan hal seperti itu..”

Nyatanya, setelah ada program “gratis anak ayam” itu, mulai banyak orang datang untuk membeli makanan ternak di tokonya. Dan semakin lama, tokonya makin laris saja.

Setelah diselidiki, ternyata pembeli yang menerima anak ayam gratis itu kembali lagi! Mengapa bisa demikian? Tentu saja, untuk membeli makanan bagi anak ayam gratisan itu!

~ Pesan Moral ~

Jangan pernah takut untuk “memberi”, karena itu adalah langkah pertama bagi kita, untuk “menerima”. Sayangnya, banyak orang yang berpikir sebaliknya. Mereka berpendapat: “menerima dulu, baru berpikir untuk memberi.” Inilah yang bisa membuat kita tidak mengalami terobosan apa-apa dalam hidup ini. Mana ada petani yang mengharapkan bisa menuai, padahal sebelumnya ia tidak menabur apa pun?

Mari teman-teman, selagi masih ada “kesempatan”, tetap jadi orang yang murah hati. Beri kebaikan, beri perhatian. Beri dan beri. Jangan hanya “beri” jika ada keuntungan bagi kita (alias tidak tulus). Ingat, hidup ini seperti “gema”. Apa yang kita keluarkan, niscaya akan kembali kepada kita. Jika kita menabur hal-hal yang baik, tentunya akan menuai kebaikan-kebaikan pula.

Selamat memberi!
[dari berbagai sumber: Andrie Wongso]

Berani Membuat GOAL tertulis

Status

Ada 6 Tahapan yang harus saya lakukan untuk Membuat Impian dan GOAL secara tertulis menurut Anthony RobbinOnly YOU can Decide

  1. DOING : Apa yang saya ingin lakukan
  2. BEING : Saya ingin menjadi apa
  3. HAVING : Apa yang ingin saya miliki
  4. CREATING : Apa yang akan saya ciptakan
  5. EXPERIENCING : Sesuatu yang ingin saya alami
  6. CONTRIBUTING : Apa yang bisa saya sumbangkan